kemarin..
kau tahu kalau aku selalu berada di kejauhan sana, itu demi memperhatikan gerak dan gerikmu, seperti Newton menatap buah apel dan mencipta sesuatu bernama Gravitasi sayang.
Kalau aku menatapmu, nantilah kucari apa namanya..
hari ini..
Biarkan aku menamakannya semai yang malu-malu. Sebab, aku yakin suatu saat ia akan tumbuh. Tinggal mencari pemicunya saja. Kurawat dan kusiram ia setiap hari--tempat dimana kau memijak langkahmu dan aku menatapmu di kejauhan sana.
Semai yang malu-malu itu, akan kuabadikan di dalam kepalaku.
Saturday, November 14, 2009
Menyemai jejakmu di kejauhan
Wednesday, October 07, 2009
Sepotong kertas yang membunuh Ahmad
Kesehariannya itu-itu juga, berkutat dengan rutinitas yang sama. Jam delapan pagi masuk kantor, jam empat sore pulang kantor. Pernah suatu ketika ia berteriak di rumahnya, setelah lima tahun menjalani pekerjaan seperti itu.
"AAAAAAAAAAAAAAAAkuuuuuuu Bosaannnnn!!!!!, SSaangat bosan," teriaknya di dalam rumah yang dihuninya sendiri. Rumah itu, adalah satu-satunya warisan orang tua yang ditinggal mati karena kecelakaan pesawat dua tahun lalu.
Sebagai sekretaris sebuah perusahaan. Seorang lelaki sebenarnya tak layak menyandang profesi itu. Tapi sang bos, tau siapa pemuda ini. "saya ini dipekerjakan oleh bos, karena almarhum bapak saya dulunya akrab dengan beliau." katanya singkat.
Gaji yang lumayan sebagai seorang sekretaris perusahaan. Ia hanya cukup menyediakan koran di waktu pagi untuk si bos. Menyiapkan jadwal acara, dan sesekali menyiapkan kopi. Itu jika sekretaris perempuan yang satunya sudah pulang tentu saja.
"Yah, itulah pekerjaan saya. Seolah semuanya sudah terjadwal dengan membosankan. kau tau... M e m b o s a n k a n !!" ungkapnya dengan nada sedikit kesal.
######***#####
Pemuda ini bernama Andi. Saya mengenalnya sekitar lima tahun lalu sebagai sesama mahasiswa yang ingin belajar menulis. Saya tau dia sangatlah berbakat. Saking berbakatnya, guru menulis saya pun seringkali menyanjungnya. Hampir setiap kali, ia mendapatkan urutan pertama penilaian menulis, dalam kontes kecil-kecilan lomba menulis yang diadakan guru menulis saya.
"San..., kau tau apa yang membuat kita bisa menulis dengan baik ??," katanya kepada saya suatu kali.
"Tidak, menurutmu apa." jawab saya dengan penuh tanya.
"Hahaaa... kebebasan barangkali, itulah jawabannya. Kau tau kalo runitas yang berulang itu, bisa membunuh kreativitas kita sebagai penulis. Setiap kali, saya selalu berprinsip jangan melakukan sesuatu yang itu-itu juga." katanya dengan penuh meyakinkan.
Rutinitas membunuh kreativitas, rutinitas membunuh kreativitas, hal yang berulang-ulang bisa membunuh kreativitas. Tiga kata itu, memang menghantui saya. Taulah, semasa mahasiswa dulu. Tidak pernah saya membayangkan menjadi seorang penulis. Saya hanya berkutat pada tugas kuliah dan kegiatan eksrakurikuler. Ya, hanya itu dan memang selalu membosankan.
Lalu lima tahun berlalu, kebetulan mempertemukan saya dengan pemuda ini. Pemuda yang sudah kelihatan mapan, tetapi wajahnya masih nampak kurang puas. Saya dijadwalkan untuk mewawancarai bosnya, untuk sebuah terbitan majalah. Ia melayani saya mempersiapkan segalanya. Menawarkan kopi, majalah untuk bacaan sambil menunggu.
Saya mengenalnya tentu saja, dan barangkali ia sudah melupakan saya. Akhirnya saya menyapa duluan, setelah perjumpaan kami terkahir yang lama, semasa kuliah dan masih belajar menulis.
"Ya, beginilah saya.. tapi lumayanlah gaji disini. Tidak banyak bekerja dan gaji besar."
"Kamu, ke rumahlah jalan-jalan. kita mengobrol banyak disana.. bagaimana ?? "
Saya, mengiyakan permintaan kawan lama saya itu. Setelah menyelesaikan sedikit wawancara dengan bosnya. Andi, menjemput saya dengan mobil mewahnya yang sudah menunggu.
Diperjalanan, ia mengungkap kebosanannya di tempat kerja selama ini. Seolah mengumpat dengan nada suara agak tinggi, ia selalu saja mencaci bosnya di tempat kerja. Ia mengaku kepada saya, jika bosnya tidak pernah memberikan peluang kepadanya untuk berkembang.
"Kau masih ingat khan kalimat ini. Rutinitas selalu membunuh kreativitas... AAAAkkkhhhh," teriakannya menyadarkan saya, dan berusaha menyabarkannya.
"Sabarlah kawan. paling tidak kamu beruntung memiliki gaji besar disana dibandingkan rutinitas bangsat yang selalu kaucaci maki itu.." ungkap saya..
Dan saya tau, Andi tetaplah seorang pemuda yang kreativ sampai sekarang yang saya kenal.
Pemuda ini. Nama lengkap sebenarnya bukanlah, Andi. Tapi, Ahmad Anggoro Dwijaya. Ia hanya menyingkatnya menjadi Andi. Biar keren katanya. Juga biar bisa menjadi nama atau inisial sebagaimana penulis besar yang selalu menyembunyikan identitas asli. Ya itulah cita-citanya dahulu. Menjadi penulis besar, Andi.
Sebagaimana cita-cita saya juga. Di rumahnya yang lebih dari sederhana, kami nostalgia masa lalu saat belajar menjadi penulis. Diam-diam, saya menjambangi kamarnya. Mencoba melihat apakah ia masih memiliki buku yang banyak, referensi dan sejarah sebagai bahan tulis sebagaimana ia mendambakannya dahulu..
Tidakk... saya sudah tidak menemukan banyak buku, referensi sejarah miliknya seperti dahulu lagi. Tapi saya menemukan, satu kertas kecil lusuh yang tertempel di lemari. Ita selalu membunuh Ati. Tentu saja saya selalu ingat dengan kalimat itu. Ita selalu bunuh Ati.
Saya bahkan selalu mengulangnya ulangnya dalam hati sebagai motivasi menulis saya. Bahkan, sampai sekarang saya masih membawa kertas bertuliskan sama.
Rutinitas memang selalu membunuh Kreativitas. Dan itulah motivasi menulis pertama saya yang diperkenalkan Andi. Jika tidak bisa menulis, saya melihat lagi kalimat ini, Ita selalu membunuh Ati.. Ita selalu membunuh Ati.. dan terus mengaung di kepala saya.
Rutinitas memang membunuh kreativitas.... Rutinitas itu, yaaa, sebagaimana ia membunuh Ahmad.
Kini Andi hanya tersisa dari kenangan masa lalu di kertas tertempel : Ita selalu membunuh Ati-Rutinitas selalu membunuh Kreativitas...
Wednesday, September 23, 2009
m a a f
Menghapus sedikit benci dari ruang di hati. entah, kalimat ini saya dapatkan pada pesan pendek khas lebaran. jika kalimat ini benar, saya tahu masih ada benci-benci lain yang melekat di dalam hati saya. tapi itulah kata, sebuah label yang seharusnya keluar tulus dari lubuk hati yang dalam. saya tahu tidak mudah melakukannya, lebih dari sekadar ritual belaka. jika sudah begitu, saya menyimpan lagi sedikit ruang benci di hati yang keras kepala ini.
lalu suatu hari, saya pulang kampung beratus kilo dari tempat tidur saya, dan berjumpa dengan nenek. nenek yang renta dan hampir tuli dengan umur yang melebihi almarhum bapak saya itu, saya salami seharusnya dengan ritual biasa saja. tetapi entah kenapa hari itu menjadi tidak biasa. tangannya yang hangat dan kulit jemari nenek yang keriput, membuat rasa tulus itu muncul begitu saja dari nenek saya. bukan karena ia tuli, juga bukan karena keriput yang menimbulkan rasa iba. tapi nanar matanya berisyarat tulus. senyum merekah menanda ikhlas dari lubuk hati yang dalam.
sejak itu, saya tahu menghapus benci itu tidak mudah. menghapus rindu itu, tidak lekas hilang dari sekian tahun perjumpaan saya dengan nenek, sanak saudara dan kampung halaman saya.
tetapi memberi sedikit kebahagiaan kepada orang lain, keluarga dan kerabat, juga berarti menghapus sedikit benci pada ruang di hati.
saya tahu sebagai manusia benci itu, tidak pernah sirna. ia selalu beranak pinak --hilang, dan beranak lagi.
Barangkali karena itu, kita harus memberi tempat dan mengucapkan kata 'maaf'.
Friday, August 21, 2009
selamat berpuasa
Marhaban ya Rhomadan.. akhirnya bulan rhamadan datang lagi. Dan saya baru merasa menulis lagi setelah sebulan ini tidak melakukannya. Sebulan itu, rasanya hampir setahun.
Setelah saya nyekar ke makam bapak saya, dan baru saja tersentak oleh ceramah ustad jumatan siang tadi. Sepertinya saya harus melanjutkan hidup saya, life must go on kawan !! apapun yang terjadi selama jam dinding masih terus menggangu detik demi detik itu harus diisi dengan sesuatu yang bermanfaat.
Awalnya saya mengira ada yang berubah di bulan ini. Tapi sesuatu tak akan bisa berubah kalau kita tidak berbuat bukan. Dan syukurlah saya masih meyakini itu. Daripada duduk berpangku tangan menunggu waktu yang berputar menghabisi hidup. Lebih baik kita sedikit bergerak, berbuat hal kecil dan bermanfaat di sekitar kita. Bermanfaatlah di sekitar kita dahulu. Setelah itu, sedikit demi sedikit bermanfaatlah bagi banyak orang. Kalau perlu anda bermanfaat oleh orang yang tidak anda kenal sekalipun.
Dan karena itu saya ada. Juga karena itu tulisan ini ada. Sebulan merenung, waktu yang lumayan lama bagi saya untuk menggiatkan blog ini kembali. Tetapi, seperti halnya prinsip saya dahulu, saya percaya kita kalian atau saya masing-masing bisa melakukannya. Apalagi kalau bukan menulis--menulis--dan--menulis.
Semoga bulan rhamadan membuat kita lebih banyak merenung. Dan semoga kita bisa mengungkapkannya dalam bentuk sederhana seperti tulisan ini.
Tuesday, July 14, 2009
bebek mana yang kaupilih
akhirnya saya menulis juga tentang sesuatu yang saya anggap bebek, bernama politik. semasa kuliah dulu dosen saya memberikan definisi politik. tapi kurang lebih yang saya tangkap, politik itu adalah alat untuk mencapai kekuasaan. itu saja cukup barangkali untuk lebih menggambarkan definisi politik dari berbagai turunannya. dan suatu ketika ada masa dimana saya harus menyebutnya bebek. masa dimana saya dikecewakan oleh permainan politik itu sendiri sewaktu culun dahulu bernama mahasiswa. mengandai politik itu serupa bebek--bebek, jika diberi makanan akan berebut. tetapi akan ikut antri pula jika berjalan pulang sehabis berebut makanan.
barangkali melihat bebek-bebek akan lebih mudah, jelang pilpres delapan juli nanti. anggap saja saya (atau kita barangkali) adalah salah satu orang yang akan memberi bebek-bebek itu makanan di pemilihan presiden nanti. persoalannya saya tidak tau akan mengenyangkan bebek yang mana. padahal mereka sudah berebut di hadapan saya. dari berbagai macam jenis bebek-bebek itu, sunguh elok dan lucu ruparupa mereka. barangkali saya akan memilih bebek jantan daripada bebek betina. juga barangkali saya akan lebih memilih bebek jantan asal kampung saya.
apa mau dikata, bebek jantan asal kampung saya terasa lebih nikmat dagingnya. saya tau susah membedakan mana bebek yang baik dan bersih untuk disantap, dari banyak pilihan bebek yang biasa bermain di tempat yang kotor.
tau kan bebek itu kotor.. tapi bebek yang paling pas diantara yang terkotor itu, ya sekali lagi bebek asal kampung saya.
Monday, June 22, 2009
Pedagang Ikan Asin, Melawan Asing Bertangan Buntung di Pasar Becek dan Ramai
masih saja ia merenda gusar memaksa senyum merekah di pikuk ramai pembeli
senyum adalah segalanya, sebab begitu ia tak merasa asing menjaja ikan asin dagangannya
cecunguk kecil yang beterbangan di deret gantung ikan asin hampir hilang dari gusarnya
sebab matanya terus awas mengancam usir sekali tiup dari mulut yang kering
Saturday, June 13, 2009
dongeng pemilu raja hutan
mereka menitip harapan di hutan gelap yang belukar
semua yang sepasang, pasrah ditubuhi belantara
merambati mata, telinga, lengan dan kaki sepasang
dari kaca suara pewarta hingga kain tipis yang melekat
ada yang berkoar, kalem, gagah, telusur cari mangsa
Monday, June 08, 2009
(Andai) Munir Penikmat Kopi Ampas di Beranda Bersama Istrinya
kita di beranda menikmat segelas kopi panas tak diaduk menunggu
sisasisa ampas tenggelam dalam balut gelas bening tertutup rapat
satusatu orang lewat depan rumah menoleh bergantian tidak menyapa
menunggu pesan tersingkap dari mulut terkatup rapat
tidak ada harapan kali ini, kita pasti mati terbungkam oleh waktu
serupa ampas kopi dan perlahan tinggal sedikit ya dan sedikit lagi
lalu kau pergi hanya sebentar untuk datang kembali, berjanji menikmat
kopi dan mengaduknya tanpa menunggu ampas tenggelam makan waktu
saat segelas kopi tidak lagi panas, dan tutupnya terbuka dan orangorang
mulai menyapa bergantian di depan rumah berusaha jangkau tangan kita
adakah orangorang menoleh itu, kau kenal sampai kau hilang terlalu cepat
dan belum sempat menikmati hangatnya kopi ampas kesukaanmu
Saturday, June 06, 2009
Pohon Apel
di bawah pohon apel belakang rumah kita, kau ingin ada disitu
sebagai janji biar anak kita kelak mudah memetiknya
kau tak ingin dikubur di pemakaman yang ramai seperti lalulintas pagi,
di hari senin, katamu
Tapi hanya di bawah pohon apel yang jauh dari ramai,
dan orang-orang tidak menziarahimu
juga supaya kau bisa meraba anakanakmu kelak yang ditinggal hidup
dan berpesan pohon apel itu adalah kau, yang menjelma sebatang dan beranting dedaun
itu sebabnya, anak-anak rajin merawatmu memetiknya dan memberinya ke tetangga
mereka tidak pernah melahap sebuah apel pun sayang
memetikmu seperti memandang engkau yanh memarahi, menasehati dan membelai kami
Thursday, May 21, 2009
sesajak yang tak koalisi dengan kuasa
sajak ini tak koalisi dengan kuasa sejak sajak mulai kecewa
dibelai-buai si pencipta di hadapan tuan penikmatnya
sajak ini juga tau bakal gagal dapat kursi untuk mantra menteri
kepada rakyat, demi kata menolak ngibul para jelatanya
sajak ini hanya menyenangkan penciptanya dan sesajak itu sendiri
dan tertawa dan menangislah ia sekeras-kerasnya di kenang waktu
jadi pembungkus kacang, alas duduk dan jadi angin lalu
ia lupa pernah menolak kuasa waktu itu

